PPAD
KesehatanSerba-serbi

Laki-Laki Lebih Berpotensi Terkena Parkinson, Waspadalah!

PPAD Prosperity— Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif dengan prevalensi terbanyak kedua setelah penyakit alzheimer dengan sekitar 160 kasus pada 100.000 populasi. Penyakit ini disebabkan karena berkurangnya hormon dopamin di otak yang menyebabkan penderitanya mengalami penurunan gerak anggota tubuh.

“Penyakit parkinson ini lebih banyak diakibatkan adanya penurunan fungsi di otak pada daerah yang disebut substantia nigra,” tutur Priya Nugraha dr SpN(K) pada gelaran Dokter UNAIR TV yang bertajuk Badan Gemetaran? Waspadai Parkinson, baru-baru ini. Demikian dikutip dari unair.ac.id

Parkinson biasanya paling sering ditemukan pada kasus-kasus pencemaran limbah seperti mangan, magnesim, karbonoksida, methanol, etanol, sianida, dan yang terbaru MPTP. Di samping itu, penyakit ini juga dapat disebabkan oleh trauma dan infeksi yang mengenai susunan saraf pusat (otak).

Layaknya penyakit degeneratif lainnya, parkinson menyebabkan penurunan struktur atau fungsi dari sel saraf secara progresif yang akan semakin memberat seiring dengan berjalannya waktu. Terdapat empat gejala utama dari penyakit ini yang biasanya dirangkum dalam mnemonik TRAP yakni tremor, rigiditas, Akinesia (pelambatan), dan postural instability (instabilitas postural).

“Tremor ini adalah tremor yang terjadi ketika istirahat. Jadi, kalau Bapak atau Ibu sedang istirahat dan ngobrol, tangannya agak sedikit gemetaran,” tegas dr Ugra, sapaan akrabnya. Penyakit parkinson pun akan berdampak terhadap cara berjalan si penderita yang mulai melambat dengan postur yang tidak stabil.

Penderita parkinson, lanjut dr Ugra, biasanya tidak menyadari beberapa gejala penyakit parkinson yang dialaminya. Pada banyak kasus, justru orang-orang terdekat penderita seperti teman, pasangan, atau keluarga yang mengetahui munculnya gejala pada penderita parkinson.

sumber foto: unair.ac.id

Laki-Laki Lebih Berpotensi

Gejala-gejala parkinson akan muncul pada usia 40-70 tahun walaupun terdapat beberapa kasus di mana gejala muncul di usia yang lebih dini. Biasanya, penyakit ini lebih banyak diderita pria dibandingkan wanita dengan perbandingan 3:2.

Meskipun tidak serta-merta menyebabkan kematian, namun penyakit parkinson yang menahun dapat menyebabkan munculnya penyakit lain seperti infeksi paru-paru (pneumonia) bahkan dapat memunculkan depresi.

“Pada pasien lama yang tirah baring, (tubuhnya, Red) kaku menjadi malas bergerak sehingga pasien cenderung untuk terserang suatu infeksi paru-paru (pneumonia) karena imobilisasi lama,” terang dr Ugra.

Mengingat gejala penyakit yang muncul pada individu yang tidak lagi muda, penderita parkinson juga rawan mengalami fraktur (patah tulang). “Patah tulang ini kadang-kadang tidak bisa operasi karena banyak komorbidnya semakin banyak di usia ini,” ungkap dr Ugra.

Hingga saat ini, belum ada tata laksana yang dapat menyembuhkan penyakit ini. “Tata laksana, obat-obatan, atau beberapa terapi lain seperti fisioterapi dan operasi itu hanya untuk mengurangi atau mengoptimalkan gejala-gejala sehingga pasien masih bisa beraktivitas,” pungkas dr Ugra.***unairnews

Related posts

Hilangkan Peran Tengkulak dengan Korporatisasi Petani Melalui Koperasi

admin

Penutupan Pra PON 2 Bersamaan HUT Pertina ke 64

admin

Jeli Melihat Peluang Bisnis di Masa Pandemi

admin

Kepala BMKG: Sistem Peringatan Dini belum Efektif Antisipasi Tsunami Non Tektonik

admin

Menkes Ingatkan Peran Puskes TNI Hadapi Ancaman Non-Militer

admin

Tiga Strategi Hadapi Krisis Pangan Global

admin

Leave a Comment