PPAD
Serba-serbiWirausaha

Usia Kerajinan Kulit Garut sudah 100 Tahun Lebih Namun Kurang Dikenal di Mancanegara

PPAD Prosperity— Kerajinan kulit Garut sudah sangat terkenal di Indonesia, setidaknya di masyarakat dalam negeri. Tak heran karena usia kerajinan kulit Garut sudah lebih dari 100 tahun. Sayangnya, meski usia kerajinan kulit ini sudah satu abad lebih namun secara kualitas masih jauh tertinggal, apalagi kalau dibanding dengan kualitas kerajinan kulit dari Italia.

Hal itu juga diungkap Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki pada acara peresmian Rumah Produksi Bersama (RPB) Komoditas Kulit, di Kabupaten Garut, Jawa Barat, baru baru ini.

“Kerajinan kulit Garut sudah berusia lebih dari 100 tahun, atau sama dengan usia kerajinan kulit Italia, namun secara kualitas dan brand masih jauh tertinggal,” ujarnya. Karena itu, dia mendorong agar kualitas produk kerajinan kulit (sepatu, tas, jaket, dan sebagainya) khas Garut ditingkatkan sehingga bisa sejajar dengan produk kulit asal Virenze, Italia. 

“Karena, kiblat mode kulit itu ada di Italia, dan kita bisa meniru dan mengarah ke sana,” ucapnya dikutip dari siaran pers Kemenkopukm.

Di negara Barat, jelas Teten, mereka selalu mengembangkan permesinan sebagai alat produksi. Sedangkan di kita tidak pernah mengembangkan atau memodernisasi alat produksi produk, khususnya produk kulit.

MenKopUKM berharap RPB ini bisa menjadi pusat untuk pengembangan ekosistem kulit di Kabupaten Garut, sehingga produk kulit Garut bisa terkenal di mancanegara dan brand kulit Garut bisa naik kelas.

Ia juga mengakui, isu utama produk-produk UMKM adalah soal kualitas, hingga tidak bisa bersaing dengan produk pabrikan dan luar negeri.  “Cara produksi UMKM itu masih sederhana. Dengan adanya alat-alat produksi modern di RPB, diharapkan produk UMKM semakin berkualitas,” katanya.

Dengan adanya RPB, Teten berharap kualitas produk kulit asal Garut bisa terus tumbuh sesuai dengan keinginan dan tuntutan pasar dunia. “Dengan adanya RPB, produk hilirnya sudah harus berkelas dunia,” kata Menteri Teten.

Apalagi, kata Teten, RPB bukan sekadar menyediakan alat produksi belaka, tapi juga sebagai Co-Working Space. Sebuah tempat untuk belajar bersama, bertukar informasi, hingga ajang inovasi produk. “Maka, di RPB juga akan disiapkan konsultan untuk memperkuat ekosistem bisnis,” kata Menteri Teten.

Menteri Teten menambahkan, RPB juga menjadi tempat pengembangan desain produk. “Kita harus pahami tren produk kulit dunia dan perilaku konsumen. RPB harus menjadi Center of Excellence,” kata MenKopUKM.

Oleh karena itu, ia berharap RPB harus dikelola dengan baik. Di dalamnya diperlukan keahlian manajerial industri. “Kita juga harus memelihara dan terus memodernisasi alat karena industri terus berkembang. Sehingga, RPB tidak akan mengalami penuaan, tapi terus berkembang,” katanya.

Selain itu, RPB tidak boleh mati secara bisnis, melainkan harus berkelanjutan dan dikelola dengan baik. “Pengelolaannya harus disiapkan dengan baik, harus running well, tidak mangkrak. Nah, koperasi sebagai pengelola yang harus memikirkan itu, yaitu Koperasi Cinta Carma Bella,” ucapnya.***

Related posts

Peran Penyuluh Pertanian di 10 Provinsi Gernas Penanganan El Nino Semakin Diperkuat

admin

Jangan Dibuang, Kotoran Burung Walet Bisa Diolah Jadi Pupuk Kompos

admin

Manfaat Minum Air Hangat, Ini Mitos dan Faktanya

admin

Wasiat “Kita Jaga Alam” Doni Monardo kepada MIND ID

admin

PP Pertina Ikuti Arus Besar Tinju Dunia

admin

Inovasi: Mahasiswa UGM Kembangkan Alat Penjernih Minyak Jelantah

admin

Leave a Comment