PPAD
Serba-serbiTipsWirausaha

Tips Budidaya Kapulaga dari Balittro

PPAD Prosperity— Prospek bisnistanaman obat kapulagamakin berkilau. Saat ini buah kapulaga termasuk rempah termahal ketiga di dunia setelah buah vanili dan kembang saffron. Meski menjanjikan keuntungan yang berlipat-lipat lantaran tingginya permintaan, namun jumlah pengusaha pertanian yang tertarik membudidayakan kapulaga belum banyak.

Nah, bagi mereka yang ingin terjun ke bisnis pertanian, kondisi ini bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Bagi yang tertarik, ada baiknya memperhatikan saran yang disampaikan Peneliti Ahli Madya di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Chevy Syukur.

Mengutip hortikultura.pertanian.go.id, Chevy menjelaskan, dalam suatu kegiatan budidaya ada  tiga faktor yang harus diperhatikan. Yakni; benih, pelaksanaan teknis budidaya dan proses pascapanen. Ketiga faktor inilah yang akan menentukan hasil akhir produk yang dibudidayakan.

Untuk budidaya kapulaga, ujarnya, sangatlah dianjurkan untuk melakukan penyiapan lahan dengan cara yang dapat memperbaiki dan memelihara struktur tanah serta dapat menekan laju erosi.

Menanam kapulaga/foto: hortikultura.pertanian.go.id

“Tanaman kapulaga ini sangat tidak menginginkan genangan air di permukaan yang menyebabkan pembusukkan bunga-bunga yang akan tumbuh di permukaan sekitar tanaman,” kata Chevy.

Chevy menambahkan, di sekitar tanaman kapulaga diperlukan adanya tanaman naungan seperti pisang, albasia, mahoni, manggis, karet dan lain-lain sebanyak 30 persen. Kemudian, salah satu syarat tumbuh tanaman kapulaga adalah lahan memiliki ketinggian 300-800 m dpl dengan suhu 20-30 derajat Celcius.

Panen buah kapulaga yang pertama dilakukan pada saat tanaman berumur tujuh bulan. Panen kapulaga dapat dilakukan secara rutin dan berkala sampai tanaman tidak produktif lagi, yaitu pada umur 5 hingga 6 tahun.

Keuntungan Menggiurkan

Keuntungan budidaya kapulaga telah dirasakan oleh Direktur PT Kapolaga Berkah Pangandaran, Kunkun Herwanto. Kunkun menuturkan pengembangan kapulaga di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Barat ini tidak terganggu dengan kondisi pandemi. Bahkan, harga kapulaga sempat tembus angka Rp 340.000 per kilogram.

“Alasan memilih tanaman kapulaga sebagai komoditas yang dikembangan karena memang biaya produksinya sangat rendah,” ungkap Kunkun.

Untuk modal awal bertanam untuk luasan 1 hektar, jelasnya, dibutuhkan Rp38 juta. Panen basah 10 ribu kg dikalikan harga Rp 10 ribu per kg menghasilkan Rp 100 juta sehingga apabila dikurangi modal maka perolehan laba senilai Rp 61 juta. Sementara untuk panen kering menghasilkan 2500 kg apabila dihargai Rp 90 ribu per kg bisa mencapai keuntungan kotor Rp 225 juta. Apabila dikurangi modal maka keuntungan normal bisa mencapai Rp 185 juta.

Selain bernilai ekonomi tinggi, tanaman ini tidak mengganggu tanaman lain karena kapulaga ini bukan tanaman monokultur sehingga sangat cocok dikembangkan sebagai tanaman tumpang sari.

“Selain itu, kapulaga juga tidak sekali panen. Panen kapulaga bisa beberapa kali sehingga keuntungannya jangka panjang,” pungkas Kunkun.***/din

Related posts

Cegah Dampak Polusi Udara dengan 6M 1S

admin

Ini yang Terjadi pada Tubuh Anda jika Sering Makan Mie Instan

admin

Mesin Pengolah Sampah Inovasi Pangdam III/Siliwangi Diburu Para Pelaku Usaha

admin

Arti Penting UN National Global Compact bagi MIND ID

admin

Pakar IPB University Bicara Pemanfaatan Lahan Marginal dan Tumpangsari Kedelai

admin

Mayjen TNI Herianto Syahputra Dijagokan Pimpin PP INKAI

admin

Leave a Comment