PPAD
Berita TerkiniKesehatanSerba-serbi

Epidemiolog: Salah Satu Penyebab Naiknya Kasus Covid karena Hilangnya Kekebalan setelah Vaksin Terakhir

PPAD Prosperity— Meski saat ini status pandemi Covid-19 sudah dicabut dan masyarakat sudah menjalankan kehidupan normal, namun nyatanya Covid-19 belum sungguh-sungguh hilang. Bahkan saat ini Covid-19 kembali meningkat.

Menurut pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Syahrizal Syarif, tiga faktor penyebab peningkatan kasus Covid di Jakarta, salah satunya hilangnya kekebalan setelah vaksin terakhir. Namun menurut dia, orang yang terpapar Covid bergejala biasa dan sedikit yang memerlukan perawatan.

Tiga faktor tersebut, demikian Syahrizal Syarif sebagaimana dilansir laman nu.or.id, pertama, kehilangan kekebalan praktis setelah beberapa bulan meskipun sudah divaksin sebab virus Covid-19 sifatnya temporal. Hal ini berbeda dengan vaksin polio, campak rubella yang sifanya permanen.

“Kita semua pada dasarnya rentan walaupun sudah vaksin hingga tiga kali. Tapi, kalau kita terkena Covid lagi maka gejalanya biasa saja, seperti alami flu biasa, sedikit sekali yang memerlukan perawatan,” kata Syahrizal kepada NU Online.

Kedua, mutasi virus bukan faktor utama, namun penularan tergantung pada kondisi kesehatan seseorang. Ketiga, musim dingin dan keramaian akhir tahun turut berkontribusi pada peningkatan kasus. Syahrizal menekankan bahwa meskipun telah divaksin, kerentanan terhadap virus masih ada terutama saat memasuki musim dingin. 

la kemudian memaparkan hasil analisis Covid dari tahun 2021, 2022 hingga 2023 terjadi peningkatan setiap memasuki bulan Desember.   “Kalau di negara empat musim ini adalah musim dingin. Kalau sudah masuk musim dingin angka kejadian flu juga tinggi ditambah Desember banyak keramaian seperti perayaan Tahun Baru dan Natal itu dirayakan seluruh dunia dan biasanya agak naik,” jelasnya.

Syahrizal menekankan vaksinasi sebagai langkah penting, meskipun Covid sekarang dianggap endemik, bukan lagi pandemi. Kekebalan setelah vaksin tidak permanen, namun vaksinasi memberikan keuntungan gejala ringan atau tanpa gejala saat terinfeksi.

“Kita harus lihat mereka yang sudah pernah mendapatkan vaksin akan mendapat keuntungan kalau dia kena, gejalanya ringan. Oleh sebab itu bagi mereka yang belum pernah vaksin atau baru vaksin satu kali, silakan sebaiknya ikut vaksinasi yang sudah disediakan pemerintah,” ajaknya.

Tips jika terpapar Covid Omicron, Syahrizal menyebut, ada beberapa gejala terinfeksi Covid Omicron yang mudah dikenali. Sepert gejala lemas, demam, batuk, dan flu. Dia menyarankan jika masyarakat mengalami gejala-gejala tersebut agar istirahat minimal 5 hari dan menggunakan masker.

“Walaupun gejalanya ringan tapi gampang menular jadi kalau kita batuk, flu harus istirahat dulu paling tidak 3-5 hari di rumah. Kalau pun harus keluar pakai masker. Angka di lapangan sebetulnya lebih dari yang didata pemerintah. Artinya semua orang yang batuk flu patut dianggap Covid,” tegasnya.

Syahrizal menyebut kesadaran ini juga harus ditekankan kepada pemerintah dan informasi mengenai risiko serta manfaat vaksinasi harus disampaikan dengan jelas tanpa membuat masyarakat khawatir. “Jadi dari sisi pemerintah cukup memberikan akses kemudahan vaksinasi saja bagi mereka yang ingin mendapatkan vaksin lengkap atau booster. Harus disampaikan bahwa tak ada satu orang pun yang kebal terhadap virus. Namun vaksinasi akan memberikan keuntungan ketika terinfeksi tak ada gejala atau alami gejala ringan,” pungkasnya. *** 

Related posts

Mentan Amran: Indonesia Bisa Jadi Pengekspor Beras, Ini Syaratnya

admin

Kapan Musim Kemarau 2024? Ini Penjelasan BMKG

admin

Kepala Daerah Diminta Antisipasi Kekeringan dan Gelombang Panas untuk Jaga Pangan dan Inflasi

admin

Hebat! 16 Kali Juara Umum Piala Panglima TNI, Kasad Apresiasi Kontingen TNI AD

admin


Pupuk Organik Cair dari Air Cucian Beras

admin

Jangan Salah! Rokok Elektrik Sama Berbahayanya dengan Rokok Tembakau

admin

Leave a Comment