PPAD Prosperity— Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menjelaskan proyek-proyek yang dibantu dikerjakan oleh TNI hanyalah proyek yang tidak terjangkau oleh kementerian.
Menurut dia, TNI tidak mengambil alih terlebih dahulu atau memilih proyek, tetapi hanya proyek yang tidak bisa dikerjakan karena keterbatasan. Misalnya, kata dia, proyek-proyek untuk wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
“Bukan proyek itu diambil duluan baru kita milih, enggak, yang tidak bisa dilakukan baru kita lakukan,” kata Maruli di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu saat menjawab pertanyaan soal fenomena TNI yang ikut mengurus hal-hal lain, dilansir Antara.

Dia mencontohkan bahwa biasanya pekerjaan di wilayah 3T itu memiliki nilai proyek yang tidak besar, tetapi pekerjaannya memerlukan transportasi yang luar biasa. Menurut dia, proyek seperti itu akan sulit mendapatkan pihak yang ingin mengerjakan.
“Nilai proyek misalnya Rp200 juta, pekerjaannya di Pulau Nias gitu. Mungkin sulit mencari yang mendapatkan proyeknya, ya coba kita bantu,” kata dia.
Di samping itu, dia pun merespons soal isu TNI turut membantu pemberantasan begal. Menurut dia, pihaknya hanya menyiagakan TNI di tempat yang rawan kejahatan aksi itu demi pencegahan.
“Begal itu jadi takut karena ada tentara, gitu lho. Bukan ngurus-ngurusin,” kata dia. (Antara)
***Caption: Ilustrasi- Pembangunan jembatan gantung perintis yang menghubungkan antar kecamatan di Desa Kumbang Jaya, Kecamatan Badar, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh (Foto: MC Prov Aceh)

