Oleh: Mayjen TNI (Purn) Dr. Komaruddin Simanjuntak
Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD)
Dinamika ruang publik belakangan ini berkembang semakin terbuka. Berbagai pandangan, kritik, bahkan perbedaan sikap muncul dalam merespons persoalan bangsa. Dalam situasi seperti ini, keluarga besar purnawirawan TNI Angkatan Darat perlu menyikapinya secara jernih, proporsional, dan tetap dalam semangat persaudaraan.
Purnawirawan TNI AD adalah aset strategis bangsa. Di dalamnya terdapat pengalaman panjang, pengetahuan, kepemimpinan, serta tanggung jawab moral yang tidak serta-merta berakhir ketika seorang prajurit memasuki masa purnatugas.
Purnatugas bukan berarti berhenti mengabdi. Seragam boleh disimpan, jabatan boleh ditinggalkan, tetapi nilai-nilai Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI semestinya tetap hidup dalam cara kita berpikir, berbicara, dan bersikap sebagai warga negara.
Purnawirawan tentu memiliki hak untuk berbeda pandangan, menyampaikan pendapat, bahkan mengkritik kebijakan pemerintah maupun lembaga negara. Namun, kritik akan jauh lebih bermakna apabila disampaikan secara santun, berdasarkan fakta dan data, serta ditujukan untuk memperbaiki keadaan—bukan memperbesar persoalan atau menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu.
Dalam semangat itulah, ada tiga hal yang menurut saya penting menjadi perhatian bersama keluarga besar purnawirawan TNI AD.

Menjaga Kemanunggalan TNI dan Rakyat
Pertama, purnawirawan memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga kemanunggalan TNI dan rakyat. Hubungan TNI dengan rakyat merupakan salah satu fondasi penting kekuatan bangsa yang telah dibangun melalui perjalanan sejarah yang panjang.
Perbedaan pandangan di antara purnawirawan adalah sesuatu yang wajar. Purnawirawan bukan kelompok yang harus memiliki satu pikiran dan satu pilihan dalam seluruh persoalan kehidupan berbangsa.
Namun, perbedaan itu hendaknya disampaikan tanpa merendahkan, menghujat, atau menimbulkan persepsi buruk terhadap institusi TNI dan TNI AD.
Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan sampai perbedaan tersebut merusak persaudaraan, apalagi mengurangi kepercayaan rakyat kepada TNI.
Menjaga Marwah Purnawirawan
Kedua, kita harus bersama-sama menjaga marwah dan nama baik keluarga besar purnawirawan TNI AD.
Purnawirawan memiliki sejarah pengabdian, pengalaman, jaringan, serta pengaruh sosial yang besar. Karena itu, nama dan identitas purnawirawan TNI maupun TNI AD harus digunakan secara bijaksana dan jangan sampai ditarik untuk kepentingan politik kelompok tertentu.
Setiap purnawirawan adalah warga negara yang memiliki hak politik dan kebebasan menentukan pilihan. Hak tersebut harus dihormati.
Namun, ketika seseorang berbicara dengan membawa nama organisasi atau keluarga besar purnawirawan TNI AD, kepentingan bangsa dan negara harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi, golongan, maupun kelompok politik.
Purnawirawan harus mampu menunjukkan kedewasaan seorang negarawan: berbeda tanpa bermusuhan dan mengkritik tanpa kehilangan kehormatan.

Mengubah Kegelisahan Menjadi Solusi
Ketiga, sudah saatnya setiap kegelisahan terhadap persoalan bangsa diubah menjadi gagasan dan solusi.
Keprihatinan terhadap kondisi bangsa adalah sesuatu yang wajar. Justru karena memiliki pengalaman panjang dalam kepemimpinan, strategi, pengambilan keputusan, serta menghadapi berbagai situasi sulit, suara purnawirawan semestinya mempunyai bobot dan nilai lebih.
Pengalaman tersebut merupakan modal besar yang dapat terus disumbangkan kepada bangsa.
Karena itu, setiap kritik hendaknya disertai alasan dan data. Setiap keprihatinan diikuti pemikiran. Dan setiap pemikiran sedapat mungkin bermuara pada rekomendasi yang konstruktif.
Dengan cara demikian, suara purnawirawan TNI AD tidak berhenti sebagai perdebatan di ruang publik, tetapi menjadi masukan yang berguna bagi pemerintah dan lembaga negara dalam mencari solusi terbaik bagi masyarakat.
Pengabdian yang Berubah Medan
Semangat pengabdian itu pula yang terus didorong PPAD melalui berbagai kegiatan yang memberikan manfaat nyata kepada keluarga besar purnawirawan.
Salah satunya adalah kerja sama pendidikan dengan Universitas Salakanagara (UNSAKA) yang ditandatangani pada 2 September 2026.
Melalui kerja sama tersebut disiapkan program pendidikan S1 dengan beasiswa penuh bagi 200 anak dan cucu purnawirawan TNI AD serta putra-putri pensiunan PNS TNI AD.
Program ini bukan semata-mata bantuan pendidikan. Lebih dari itu, ia merupakan investasi terhadap masa depan keluarga besar TNI AD sekaligus bagian dari upaya menyiapkan generasi penerus yang terdidik, kompeten, berkarakter, dan mampu mengambil peran dalam pembangunan bangsa.
Pada akhirnya, purnawirawan TNI AD tidak pernah benar-benar berhenti mengabdi. Medan pengabdian memang berubah. Tidak lagi berada dalam struktur komando dan penugasan militer, tetapi semangatnya tetap sama: memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.
Sebab warisan terbaik seorang purnawirawan bukanlah pangkat yang pernah disandang atau jabatan yang pernah diduduki.
Warisan terbaik adalah keteladanan seorang negarawan: berani menyampaikan kebenaran tanpa menghina, mengoreksi tanpa merendahkan, berbeda pendapat tanpa memutus persaudaraan, serta tetap menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan kelompok.
Itulah medan pengabdian setelah purnatugas. Dan di medan itulah kehormatan seorang prajurit tetap dijaga.
Merdeka! (**)

