PPAD
KesehatanTips

Jangan Anggap Remeh Kram Otot Bisa Berisiko Serangan Jantung dan Stroke

PPAD Prosperity— Pernah mengalami nyeri atau kram otot? Kebanyakan orang pasti pernah merasakannya, entah sesekali atau pun sering. Nyeri atau kram otot yang istilah medisnya disebut klaudikasio biasanya muncul karena terganggunya aliran darah.

Gejala tersebut paling sering muncul di area tungkai, terutama saat berjalan. Klaudikasio dapat disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari aktivitas yang terlalu berat hingga kondisi medis tertentu.

Meskipun kelihatannya ringan, namun klaudikasio jangan dianggap remeh. Sebab, kondisi ini bisa meningkatkan risiko penderitanya mengalami komplikasi berupa kematian jaringan atau gangrene, serangan jantung, bahkan stroke. 

Dikutip dari alodokter, klaudikasio bisa mereda saat penderitanya beristirahat. Kondisi ini dikenal juga dengan istilah klaudikasio intermiten.

Seiring berjalannya waktu, klaudikasio dapat memburuk dan memicu rasa nyeri yang menetap saat tidak melakukan kegiatan apa pun. Oleh karena itu, klaudikasio perlu mendapatkan penanganan, mulai dari menjalani pola hidup sehat hingga mengobati penyebabnya.

Pada dasarnya, klaudikasio terjadi akibat penyempitan pembuluh darah, baik karena adanya sumbatan, tekanan, maupun dinding pembuluh darah yang mengeras.

Pembuluh darah yang menyempit berdampak pada terhambatnya aliran darah, sehingga kebutuhan oksigen untuk jaringan sekitar tidak terpenuhi, termasuk otot. Pada akhirnya, jaringan tubuh mengalami kerusakan dan menimbulkan rasa nyeri.

Kondisi ini rentan terjadi pada penderita penyakit arteri perifer,  aterosklerosis, sindrom kompartemen, bahkan penyempitan ruas tulang belakang atau stenosis spinal.

Selain itu, ada pula beberapa kondisi yang meningkatkan risiko seseorang mengalami klaudikasio, antara lain lansia, obesitas, diabetes, hipertensi, kadar kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, dan adanya riwayat klaudikasio di keluarga.

Berbagai Gejala Klaudikasio

Klaudikasio dapat menimbulkan gejala nyeri atau kram otot di area tubuh yang sering digerakkan, seperti betis, paha, kaki, pinggul, atau bokong. Rasa nyeri tersebut akan timbul dan memburuk saat beraktivitas dan mereda ketika beristirahat.

Selain rasa nyeri, ada pula gejala klaudikasio lain yang dapat muncul, antara lain: lemah otot, sensasi terbakar, kesemutan, mati rasa.

Klaudikasio sebenarnya perlu segera ditangani oleh dokter. Dengan diagnosis dan penanganan sejak dini, perburukan gejala dan komplikasi pun dapat dicegah.

Sebagai langkah awal diagnosis, dokter akan bertanya seputar kondisi kesehatan dan riwayat penyakit di keluarga. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik.

Jika Anda dicurigai mengalami klaudikasio, dokter akan menyarankan pemeriksaan penunjang, seperti USG Doppler, indeks brakialis pergelangan kaki untuk membandingkan tekanan darah di lengan dan kaki, serta angiografi.

Pengobatan yang diberikan oleh dokter umumnya beragam, tergantung seberapa parah kondisi klaudikasio yang Anda alami. Langkah pengobatan dapat meliputi pemberian obat pereda nyeri dan obat pengencer darah, serta operasi kateterisasi pembuluh darah.

Sebagai bentuk penanganan sekaligus upaya pencegahan, penderita klaudikasio disarankan untuk mengubah pola hidup menjadi lebih sehat. Contohnya, dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga secara rutin, dan berhenti merokok.***alodokter

Related posts

Jika Ingin Bertahan dan Berkembang Pelaku UMKM harus Go Digital dan Terus Berinovasi 

admin

Ini 7 Suplemen Populer yang Menyimpan Bahaya Tersembunyi, Waspadalah!

admin

Tubuh Mati Rasa, Berbahayakah? Ini Penjelasannya

admin

Delapan Buah yang Dapat Dikonsumsi Penderita Diabetes

admin

Bahan Herbal Bisa Digunakan untuk Obati Hewan yang Terkena Kanker

admin

Jangan Kebanyakan Makan Semangka, Ini Bahayanya!

admin

Leave a Comment