PPAD
Berita TerkiniSerba-serbiWirausaha

Ayo Budidaya Kelor, Permintaan Tinggi di Pasar Dunia

PPAD Prosperity— Kelor (Moringa). Masyarakat Indonesia tentu tidak asing dengan tanaman ini. Kebanyakan orang mengenalnya sebagai tanaman obat atau bahkan dikaitkan dengan hal-hal magis. Padahal tanaman ini memiliki banyak kegunaan bagi kesehatan kita.

Meski sudah begitu popular di masyarakat, namun belum banyak pengusaha Indonesia tertarik menjadikan kelor sebagai komoditi. Padahal di pasar internasional, permintaan kelor dan berbagai produk turunannya cukup tinggi.

Seorang pengusaha kelor sukses, Ai Dudi Krisnadi, menyebut, peluang ekspor kelor sangat terbuka luas. Permintaan datang antara lain dari sejumlah negara di Eropa, Timur Tengah juga Amerika. Saat ini pasokan kelor dunia kebanyakan dari India. Karenanya ini merupakan peluang bagi Indonesia untuk juga ‘bermain’ di bisnis kelor.

Pengusaha kelor, Ai Dudi Krisnadi/foto: tangkap layar youtube MOI Cab Jateng&DIY

Dudi sendiri mulai mempelajari dan mengembangkan tanaman ajaib ini tahun 2006. “Saya mulai sejak 2006, mempelajari dan mengembangkan kelor. Tapi baru tahun 2012 saya membuat produk dan menyebarkannya kepada masyarakat,” ungkap Dudi seperti dikutip dalam tayangan youtube Moringa Organik Indonesia (MOI) Cabang Jateng&DIY.

Dalam tanaman kelor setidaknya terkandung 92 nutrisi yakni 48 anti oksidan, 36 anti inflammasi dan 18 asam amino. “Karenanya kelor sangat pas dijadikan asupan nutrisi harian bagi bangsa Indonesia,” tambah Dudi yang telah memiliki sekitar 150 produk dari kelor.

Ia memiliki perkebunan kelor yang luas di Ngawenombo Village, Kunduran, Blora, Jawa Tengah. Di sana dia juga membangun pusat pelatihan budidaya kelor. Bagi mereka yang ingin tahu lebih jauh tentang kelor, dapat mengikuti pelatihan di sana selama lima hari.

“Teman-teman yang ingin belajar di MOI, kami sediakan mes untuk menginap selama lima hari. Di sini ada fasilitas untuk belajar, mulai dari ruang kelas, aula, laboratorium, unit pengelolaan dan pengeringan kelor, kebun budidaya kelor, dll,” ungkapnya.

Kelor Indonesia dan Tantangannya

Dedi Junaedi, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian menyebut, dukungan penyerapan kelor Indonesia di luar negeri terus digaungkan oleh Kementerian Pertanian, ABMI, Jaringan Diaspora Indonesia Global dan KBRI di Belanda.

“Selain membawa amanat perdagangan ekspor, pengembangan kelor di Indonesia juga diarahkan pada peningkatan investasi khususnya dari sisi budidaya, mutu dan pascapanen. Langkah-langkah strategis ke depan perlu dirumuskan agar tanaman adipangan ini mendapatkan status sebagai sebuah tanaman unggul dan menjadi rencana strategis Kementerian Pertanian ke depan,” ujarnya sebagaimana dikutip dari laman ditjenbun.pertanian.go.id

Dedi menambahkan, tantangan pengembangan kelor Indonesia yang utama adalah aspek perbenihan terutama varietas yang unggul yang berpengaruh terhadap produktivitas, pengembangan kebun sumber benih dan penetapan benih unggul oleh Menteri Pertanian.

Ilustrasi salah satu produk kelor/foto: Hamed Elhaei, pexels.com

Kondisi iklim, lanjut Dedi, juga memegang peranan yang penting terhadap penanaman. Selain itu sistem budidaya yang baik (GAP) perlu dirumuskan dengan tepat sesuai kaidah-kaidah lingkungan, terutama pada pemanfaatan di daerah dengan tingkat polusi tinggi sebagai tanaman penghisap karbon dan berperan dalam menurunkan pemanasan global serta pemanfaatan kelor di lahan kritis untuk mengembalikan unsur hara dan massa air tanah, hingga pemanfaatan teknologi seperti ubahan kelor menjadi obat-obatan herbal, dan energi baru dan terbarukan.

Pola budidaya kelor menjadi tantangan selanjutnya. Mulai dari penyiapan lahan, pemeliharaan tanaman, praktek panen, pasca panen, pengolahan produk (meliputi pengeringan, penepungan, pengemasan dan penyimpanan) hingga quality control terhadap mutu, sistem distribusi dan rangkaian daur berkelanjutannya setelah sampai ke konsumen.

Pada kesempatan yang berbeda, Plt Dirjen Perkebunan, Ali Jamil menyampaikan bahwa, dengan adanya kebutuhan ekspor ditambah pemanfaatan kelor untuk kesehatan dan food grade maka budidaya kelor hingga pengolahan, standarisasi mutu dan pemasarannya perlu dilakukan secara teliti dan terukur. Untuk menuju standarisasi mutu yang baik perlu kita segera menyusun Standar Nasional Indonesia untuk Kelor.

Terkait budidaya kelor ke depan, kata Ali, hal yang harus dilakukan pertama kali adalah mengidentifikasi luasan, produksi dan petani yang terlibat disetiap sentra pengembangan di desa-desa sehingga akan terlihat area kawasan yang akan di intervensi untuk pengembangan ke depan.

Ali menambahkan, berbagai produk turunan kelor harus dipetakan sesuai dengan target pasar masing-masing. Saat ini masih banyak kelor diolah dalam bentuk daun kering (seduhan seperti teh), minuman serbuk atau powder dan dalam bentuk olahan lanjutan untuk produk obat herbal dalam kemasan kapsul.

Ke depan potensi produk kelor lainnya untuk bahan farmasi, kecantikan, aneka makanan, inovasi produk kuliner dan campuran produk lainnya memiliki peluang untuk berkembang.***/drn

Related posts

Air Mata Bahagia Haryanto Bersama Anak Yatim dan Dhuafa

admin

Program Menarik Akhir Tahun Khusus UMKM, Bisa Dapat Pinjaman Bunga Ringan

admin

Ketua MPR: Mustahil Membangun Papua jika Kekerasan tak Kunjung Usai

admin

Nasihat Mayor Purn Wayan Supatno untuk yang Mimpi Jadi Pengusaha

admin

Indonesia Kekurangan Susu Segar Lokal, Peluang Peternak Sapi Perah Tingkatkan Produksi

admin

Wapres Saksikan Baksos “Kitorang Melihat Terang” di Mimika

admin

Leave a Comment