Catatan Egy Massadiah
Gunung mengajarkan satu hal: tidak semua ketinggian perlu diteriakkan. Semakin jauh seseorang mendaki, semakin ia memahami betapa kecil manusia di hadapan semesta.
Filosofi itu mengingatkan kepada Letjen TNI Iwan Setiawan. Dan awal Oktober 2026 ini, Iwan mengemban amanat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), menggantikan Letjen TNI Mohammad Fadjar. Ia meninggalkan jabatan Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Danpussenif).
Mendengar nama Iwan, ingatan saya melayang ke masa ketika bintang belum menempel di pundaknya, bahkan saat pangkatnya masih letnan.
Iwan bersama beberapa teman seangkatannya Akmil 92 —antara lain Maruli Simanjuntak, Richard Tampubolon, Windyatno dan Drajad Brima Yoga—sesekali mampir ke tempat saya di Cinere, Depok. Mereka baru keluar dari kawah candradimuka pendidikan Komando: anak-anak muda yang dipenuhi tenaga, tawa, mimpi, dan semangat menjadi prajurit.
Perkenalan itu tidak lepas dari “Aju factor”. Aju adalah Kolonel Andi Sirajuddin Kube Dauda, almarhum, sahabat rasa keluarga sejak Taman Kanak-kanak di Tempe, Sengkang, Wajo. Ia prajurit baret merah lulusan Akmil 1991, kakak angkatan Iwan dan kawan-kawannya.
Masa masa itu kembali berlabuh ketika dikenang hari ini. Maruli, Richard, Iwan, Caca, Windy dan Aju akrab dengan arena latihan judo. Beberapa kali saya menyaksikan latihan mereka di Cijantung. Setelah latihan, saat senja menepi, seperti lazimnya anak muda, mereka mencari makanan.

Dari lingkungan itulah saya mengenal Iwan: prajurit muda yang kelak menempuh perjalanan panjang, dari kawah penempaan hingga berbagai medan pengabdian. Salah satu bab terpenting dalam perjalanan itu datang ketika ia mendapat tugas menuju Mount Everest.
Saat itu Iwan masih berpangkat Letnan Satu. Danjen Kopassus Mayjen TNI Prabowo Subianto menggagas Ekspedisi Everest Indonesia 1997. Setelah melalui seleksi dan latihan keras, Iwan masuk tim dan dipercaya memimpin Tim Selatan.
Ia bukan pendaki gunung. Everest merupakan dunia baru baginya. Namun prajurit mengenal bahasa sederhana: ketika tugas datang, persiapkan diri sebaik mungkin.
Maka Iwan berlatih, terus menempa diri.
Menjelang keberangkatan, ia mengajukan permintaan yang sangat manusiawi kepada komandannya: izin menikah lebih dahulu.
Ia tahu perjalanan itu bukan wisata. Ia menuju ketinggian dengan oksigen menipis, suhu jauh di bawah nol, dan batas antara keberanian serta keselamatan yang harus dihitung dalam setiap langkah.
Ekspedisi itu kemudian membawa Merah Putih ke atap dunia. Namun ada hal yang lebih menarik dari pencapaian tersebut. Setiap kali berbicara tentang Everest, Iwan menghindari diksi “menaklukkan”.

Baginya, manusia terlalu jumawa jika merasa mampu menaklukkan alam. Orang yang pernah berhadapan dengan dingin ekstrem, kekurangan oksigen, badai, dan jurang akan memahami bahwa di hadapan alam, pangkat, jabatan, dan kekuatan manusia hanyalah titik kecil.
Barangkali itulah pelajaran terpenting yang dibawa Iwan pulang dari Himalaya: pencapaian tidak memberi alasan untuk meninggikan diri.
Sepulang dari ekspedisi, persinggungan saya dengan Iwan masuk ke urusan buku. Suatu hari ia mampir ke kantor saya di kawasan Pancoran Jakarta Selatan. Ia membawa bahan tulisan tentang perjalanan Everest. Saat itu saya bekerja sebagai redaktur tabloid “Wanita Indonesia”, (founder ibu Hardiyanti Rukmana) sekaligus bergelut di dunia percetakan. Saya pun ikut bersentuhan di balik layar dalam proses penerbitan buku perjalanan ekspedisi tersebut.
Karena itu, bagi saya, misi Everest bukan sekadar satu baris dalam biodata Iwan Setiawan. Di dalamnya ada kenangan pribadi sekaligus awal untuk memahami cara ia memandang tugas, alam, dan dirinya sendiri.

Pam Pam Pam
Ada hal lain yang khas dari Iwan: suaranya. Di kalangan prajurit, ia dikenal piawai menghidupkan suasana dan membakar semangat pasukan melalui yel-yel. Bahkan setiap kali saya meneleponnya, sering kali bukan kata “halo” yang terdengar lebih dahulu.
Yang muncul justru suara lantang:
“Komando Hantu Rimba, Prajurit Sapta Marga… pam… pam… pam… Merah Putih…!”
Itulah Iwan.
Ramai, spontan, kocak, dengan aksen Sunda yang kental. Namun ketika masuk urusan tugas, ia berubah menjadi prajurit serius.
Dalam falsafah Sunda dikenal ajaran silih asah, silih asih, silih asuh: saling menajamkan kemampuan, memelihara rasa kemanusiaan, dan saling membimbing. Dalam kepemimpinan militer, maknanya relevan. Prajurit tidak hanya dituntut kuat, tetapi juga diasah kemampuannya, dipelihara soliditasnya, dan dibimbing agar tumbuh sebagai manusia sekaligus prajurit yang lebih baik.
Mungkin karena itu, di balik suaranya yang keras terdapat keluwesan khas urang Sunda: bisa bercanda tanpa kehilangan wibawa, dekat dengan anak buah tanpa menghilangkan garis komando.
Sifat-sifat itu mewarnai perjalanan kariernya. Iwan bergerak dari satu medan pengabdian ke medan lainnya. Lingkungan Kopassus, lembaga pendidikan, brigade, Rindam, Korem, hingga Papua pernah dilaluinya.
Ia menjadi Danjen Kopassus pada 2022, kemudian Pangdam XII/Tanjungpura sejak April 2023, dan pada akhir 2024 dipercaya menjadi Danpussenif.

Sebagian besar perjalanannya berada di jalur komando dan pembinaan prajurit. Di antara rangkaian penugasan itu, ada satu nama yang membuat hubungan saya dengan Iwan tidak pernah benar-benar terputus: Letjen TNI Doni Monardo.
Pada 2012, Iwan terlibat dalam Ekspedisi Khatulistiwa di Kalimantan di bawah komando Doni, yang ketika itu menjabat Wadanjen Kopassus.
Ekspedisi tersebut bukan semata perjalanan militer. Di dalamnya ada penelitian kehutanan, flora-fauna, geologi, sosial budaya, dan komunikasi sosial—pendekatan yang mempertemukan ketangguhan prajurit dengan pengetahuan tentang alam dan masyarakat.
Kelak keduanya kembali bertemu dalam garis komando ketika Iwan menjadi Danpusdikpassus di Batu Jajar Jawa Barat dan Doni menjabat Danjen Kopassus.
Pada Januari 2019 Doni menjadi Kepala BNPB. Saya mendampinginya sebagai Tenaga Ahli Kepala BNPB, sementara Iwan baru usai mengikuti Lemhanas. Iwan beberapa kali bersilaturahim ke Doni di kantor BNPB.
Selanjutnya Iwan menjabat Danrem 173/Praja Vira Braja. Di Biak kami nyaris bertemu. Saya datang dalam tugas Satgas Covid-19 BNPB, sementara Iwan sedang masuk hutan bersama pasukannya dalam tugas operasi.
Seperti dua jalur pendakian di gunung yang sama, kami belum menemukan titik pertemuan. Sebelumnya kami audah janjian untuk kuliner bersama di Biak.
Ada cerita yang barangkali tidak banyak diketahui orang. Doni pernah ingin menarik Iwan ke BNPB untuk memimpin pusat pendidikan dan latihan. Pikiran Doni sederhana: bencana tidak boleh ditangani oleh orang yang tidak terlatih. Ia menginginkan kultur pendidikan, disiplin, kesiapsiagaan, dan profesionalisme yang kuat di lingkungan BNPB. Nama Iwan termasuk yang ada dalam pikirannya.
Namun aturan penempatan perwira aktif di lembaga sipil ketika itu membuat gagasan tersebut tidak terwujud.
Persahabatan, bagaimanapun, tidak mengenal surat keputusan.
Ketika Iwan dipercaya menjadi Danjen Kopassus, saya sedang berada di Bengkulu bersama Doni, bersiap menuju Pulau Enggano dalam kapasitas Doni sebagai Ketua Persatuan Purnawirawan AD. Begitu kabar itu datang, saya langsung melakukan video call. Doni dan saya mengucapkan selamat kepadanya.
Hari ini saya seperti mengalami kembali suasana yang sama.
Bedanya, perjalanan telah jauh berubah. Letnan muda yang dahulu berlatih di Cijantung dan menghadapi dinginnya Himalaya kini memimpin Kostrad.

Cakra Kostrad
Bagi seorang prajurit infanteri, Kostrad tentu bukan sekadar jabatan. Di sana bertemu kesiapan pasukan, mobilitas, kecepatan mengambil keputusan, profesionalisme, dan kemampuan membaca perubahan medan operasi. Kekuatan besar menuntut tanggung jawab yang sama besarnya.
Posisi Iwan hari ini, saya melihatnya sebagai base camp baru. Dalam pendakian, mencapai ketinggian tidak berarti tugas selesai. Seorang pemimpin ekspedisi masih harus membaca cuaca, menjaga logistik, memastikan anggota tim tetap kuat, menentukan kapan maju dan berhenti, bahkan kapan harus turun demi keselamatan bersama.
Seorang panglima pun demikian.
Pangkat boleh berbintang tiga. Pasukan yang dipimpin bisa ribuan. Namun ukuran kepemimpinan bukan hanya seberapa tinggi posisi komandonya. Ukurannya adalah apakah prajurit menjadi semakin profesional, satuan semakin tangguh, kehormatan institusi tetap terjaga, dan seluruh kekuatan diabdikan bagi negara serta rakyat.
Di situlah kepemimpinan menemukan maknanya: bukan sekadar berada di depan barisan, melainkan memastikan seluruh barisan memiliki arah, daya tahan, dan keyakinan untuk menyelesaikan tugas bersama.
Everest pernah berdiri di hadapan Iwan sebagai gunung. Kopassus adalah menjadi rumahnya.
Tanjungpura menjadi wilayah pengabdian. Pussenif menjadi tempat menjaga ruh infanteri.
Kini medan berikutnya bernama Kostrad.
Di balik tiga bintang di pundaknya, bagi saya Iwan tetaplah letnan muda yang saya kenal sejak dulu. Prajurit yang belajar dari Everest bahwa pencapaian tidak mengubah kedekatan seseorang dengan bumi.
Selamat bertugas, Kang Iwan.
Ada tanggung jawab baru yang harus dijalani dan dijaga. Sebab setiap jabatan, setinggi apa pun, pada akhirnya hanya tempat singgah sebelum seseorang turun membawa makna bagi mereka yang menunggu di bawah.
Komando! (*)
Penulis adalah jurnalis senior, aktif di Teater Mandiri

