Setiap orang bisa jadi sasaran—individu, keluarga, komunitas, bahkan bangsa.
Di era digital, konflik tak selalu berseragam atau bersenjata. Hoaks, propaganda, dan AI bisa membangun sekaligus menghancurkan. Mereka memecah belah masyarakat, memanipulasi opini, dan melemahkan kepercayaan, kadang tanpa kita sadari.
💥 Contoh nyata:
Iran & Israel: AI digunakan untuk membuat narasi palsu dan deepfake yang memengaruhi opini global.
Demo & protes lokal: Konten viral di TikTok, Facebook, WhatsApp sering memicu emosi berlebihan, memanipulasi persepsi, dan menimbulkan adu domba sosial.
🛠️ Langkah praktis:
- Perorangan: Cek fakta, pelajari literasi digital, pertanyakan berita viral.
- Keluarga & lingkungan: Ajarkan anak dan anggota keluarga mengenali hoaks; bangun dialog kritis; batasi penyebaran konten belum diverifikasi.
- Bangsa & komunitas: Dukung literasi digital di sekolah, kampus, dan organisasi; bentuk komunitas anti-hoaks; jadikan individu sadar sebagai benteng pertama.
📊 Ilmu pengetahuan mengatakan:
AI dan algoritma media sosial dapat menargetkan kelompok tertentu, memperkuat polarisasi, dan memicu konflik sosial melalui filter bubble dan echo chamber.
⚖️ Kesimpulan:
Pertempuran paling menentukan terjadi di pikiran dan hati manusia. Kesadaran diri, literasi digital, dan tanggung jawab sosial adalah senjata paling efektif untuk menjaga diri, keluarga, komunitas, dan bangsa.
💡 Kesadaran kita adalah benteng pertama; tanggung jawab kita adalah senjata paling efektif.
— Brigjen Purn MJP Hutagaol ‘86
📍 Jakarta, 19 September 2025
1600

